HALSEL — Wacana mengenai identitas kebudayaan daerah kembali menjadi perhatian publik di Kabupaten Halmahera Selatan. Pegiat literasi sekaligus Direktur LKP MADOTO ENGLISH COURSE, Berly Marten, menilai konsep SARUMA harus dipahami secara lebih mendalam sebagai fondasi sosial dan kebudayaan masyarakat Halmahera Selatan, bukan sekadar slogan atau simbol seremonial semata.
Melalui tulisan reflektif berjudul “Mereduksi Makna Kebudayaan SARUMA”, Berly memaparkan bahwa SARUMA memiliki dimensi filosofis yang kuat dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman suku, agama, etnis, ras, adat, hingga wilayah di Halmahera Selatan.
Menurutnya, konsep SARUMA lahir sebagai sebuah prinsip hidup bersama yang menempatkan dialog, keterbukaan, dan penghargaan terhadap pluralitas sebagai dasar utama kehidupan sosial masyarakat Halsel.
“SARUMA bukan sekadar jargon daerah, melainkan spirit hidup bersama yang dibangun di atas penghormatan terhadap keberagaman,” tulis Berly dalam refleksinya.
Ia menjelaskan, secara sosiologis dan kultural, Halmahera Selatan merupakan daerah dengan karakter masyarakat yang sangat plural. Setiap wilayah memiliki identitas budaya, bahasa, tradisi, serta nilai-nilai sosial yang berbeda dan hidup secara berdampingan selama bertahun-tahun.
Namun di balik kekayaan tersebut, Berly menilai masih minim ruang dialog kebudayaan yang mampu menjembatani seluruh identitas lokal menjadi sebuah kekuatan kolektif daerah. Padahal, menurutnya, keberagaman budaya di Halsel merupakan modal besar untuk membangun peradaban masyarakat yang lebih terbuka dan inklusif.
Dalam tulisannya, Berly menggunakan pendekatan akademik dengan menempatkan SARUMA sebagai bentuk “dialogisme heteronomis”, yakni konsep yang mengedepankan penghormatan terhadap heterogenitas dan pluralitas melalui ruang dialog antarbudaya.
Ia juga mengaitkan konsep tersebut dengan prinsip heteroglossia, yakni penghargaan terhadap keberagaman tanda, makna, serta interpretasi dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Keanekaragaman budaya harus dipandang sebagai kekayaan yang saling menghidupi, bukan dipertentangkan. Di situlah nilai utama SARUMA,” ujarnya.
Berly kemudian menyoroti lahirnya “Festival Marabose” pada era kepemimpinan Usman-Bassam sebagai salah satu capaian penting dalam membangun ruang dialog budaya di Halmahera Selatan. Festival tersebut, menurutnya, berhasil menghadirkan ruang perjumpaan antaridentitas budaya melalui pertunjukan seni, tradisi, dan kekayaan lokal masyarakat Halsel.
Namun ia menyayangkan perubahan nomenklatur dari “Festival Marabose” menjadi “Festival Saruma” yang dinilai berpotensi mereduksi makna historis dan filosofis dari konsep kebudayaan itu sendiri apabila tidak dipahami secara substansial.
Meski demikian, Berly menegaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar nama kegiatan, melainkan bagaimana nilai-nilai SARUMA benar-benar diterapkan dalam kehidupan sosial, pemerintahan, dan pembangunan daerah.
Menurutnya, prinsip SARUMA harus tercermin dalam pola kepemimpinan yang berkeadilan, transparan, serta terbuka terhadap seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial dan budaya.
Ia menilai pemerintahan yang berkeadilan dan masyarakat yang saling mendukung merupakan fondasi penting untuk menjaga semangat hidup bersama di tengah pluralitas daerah.
“Konsep kepemimpinan dalam pemerintahan harus berkeadilan dan terbuka dalam mengambil kebijakan. Sebaliknya masyarakat juga harus mendukung program-program produktif demi kemajuan bersama,” tulisnya. Dalam refleksi tersebut, Berly juga mengingatkan bahaya eksklusivitas budaya yang dapat melahirkan sekat-sekat sosial di tengah masyarakat. Menurutnya, setiap kelompok budaya harus membuka ruang interaksi dan komunikasi agar tidak terjebak dalam sikap tertutup yang justru menghambat perkembangan kebudayaan itu sendiri.
Ia menekankan bahwa kebudayaan tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang statis, melainkan harus terus berkembang melalui proses dialog, pertukaran gagasan, dan interaksi sosial yang sehat.
“Perbedaan bukanlah produk akhir, melainkan proses yang terus berkembang. Kebudayaan harus bergerak, berdialog, dan memperbaharui dirinya,” jelasnya.
Berly juga menyoroti pentingnya paradigma transbudaya dalam membangun hubungan antarsuku, antaragama, antardaerah, dan antarkomunitas di Halmahera Selatan.
Menurutnya, komunikasi lintas budaya harus terus diperkuat agar tidak muncul eksklusivitas identitas yang dapat menghambat persatuan masyarakat.
Di era perkembangan teknologi informasi saat ini, lanjut Berly, ruang-ruang virtual seperti internet sebenarnya dapat menjadi sarana baru untuk memperkuat dialog antarbudaya dan memperluas pemahaman masyarakat mengenai keberagaman.
Karena itu, ia berharap nilai-nilai SARUMA tidak hanya dijadikan slogan dalam kegiatan seremonial, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh elemen masyarakat maupun pemangku kepentingan di Halmahera Selatan.
Baginya, SARUMA harus menjadi akar sosial yang kokoh dalam menjaga persatuan, keterbukaan, dan keharmonisan masyarakat di tengah dinamika perubahan zaman.
“Melalui pemahaman mendalam, konsep SARUMA dapat menjadi bingkai keberagaman dan kekayaan budaya yang terus dirawat oleh seluruh elemen masyarakat Halmahera Selatan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan